Skip ke Konten

Full Time Dreamer

Bagi Nara, senja adalah awal. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu melepaskan apron abu-abu dari coklat, menggantungnya rapi di sudut ruangan. Ia hendak melangkah keluar dari restoran tempatnya bekerja. 

“Langsung pulang kamu, Ra?” tanya seorang rekan kerja sambil melihat Nara. 

“Mau ke tempat biasa dulu aku, Ka. Duluan ya” jawab Nara dengan senyum hangat yang tak diabsenkan. 

Udara sore menyambutnya, membawa warna jingga yang menggantung di langit kota. Anehnya, lelah tak benar-benar menetap di tubuhnya. Justru ada getaran semangat yang selalu muncul setiap kali hari beranjak menuju senja.

Dalam langkah-langkah kecilnya di trotoar, Nara merasa seperti sedang berjalan mendekati mimpinya, meski perlahan, meski belum jelas garis akhirnya.

Sebuah ruangan sederhana di dekat pusat kota. Tempat yang disebut "biasa" itu, sebenernya istimewa untuk Nara. Meja kayu dan kursi tua yang nyaman, lampu berwarna hangat, juga jendela yang menghadap ke jalan. Ruang itu bagai rumah bagi pikirannya.

Ia duduk, membuka laptop, dan menghela napas pelan.

Hari ini berbeda.

Hari ini ia menunggu jawaban.

Sudah berbulan-bulan ia menulis, merevisi, meragukan, lalu menulis lagi. Setiap malam selepas bekerja, setiap senja yang ia curi dari waktu istirahatnya, semua tertuang dalam naskah yang kini menunggu keputusan. 

Sebuah notifikasi muncul di layar.

Email baru.

Jantung Nara berdegup lebih cepat. Jemarinya sempat ragu sebelum akhirnya mengklik pesan tersebut. 

“Kami mengapresiasi karya yang Anda kirimkan. Namun dengan berat hati kami sampaikan bahwa naskah Anda belum dapat kami terbitkan.”

Hening.

Nara menatap layar itu cukup lama. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada amarah. Hanya jeda. Jeda yang memberi ruang bagi perasaan untuk lewat satu per satu.

Ia menutup laptop perlahan, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. 

“Ditolak lagi ya... haha... haha” gumamnya sembari terkekeh menghibur. 

Matanya beralih ke jendela, melihat senja yang mulai memudar, digantikan cahaya lampu-lampu kota.

Keesokan paginya, restoran kembali ramai. Piring beradu, pesanan dipanggil, pelanggan datang dan pergi. Nara kembali berdiri di antara rutinitas yang sama.

“Tehnya satu lagi, Mbak,” ujar seorang pelanggan.

"Baik, ditunggu ya” jawab Nara ramah.

Ia bergerak cekatan, menyajikan pesanan, membersihkan meja, tersenyum pada orang-orang asing yang tak tahu apa-apa tentang dirinya. Tapi Nara tahu, setiap jam kerja adalah bagian dari perjalanannya. Ia sedang membangun ketahanan, melatih kesabaran.

“Capek nggak, Ra?” tanya temannya di sela waktu senggang.

“Capek,” Nara tersenyum.

“Tapi aku tahu buat apa.”

Sore kembali datang, seperti janji yang ditepati. Langit kembali jingga. Nara melangkah lagi di jalan yang sama, menuju tempat yang sama, dengan hati yang lebih tenang.

Ia duduk di kursi itu. Membuka laptop.

Halaman kosong menyambutnya.

“Aku masih di sini,” katanya pada dirinya sendiri, seolah memastikan.

“Aku masih menulis.”

Penolakan kemarin tidak bisa menghentikannya. Justru menguatkannya. Jika ia benar-benar ingin berhenti, mungkin penolakan ini akan cukup. Tapi nyatanya, tidak.

Kali ini, jemarinya tak ragu.

Kalimat pertama lahir, lalu yang kedua, lalu mengalir tanpa diminta. Kata demi kata tumbuh, seperti sungai yang akhirnya menemukan arusnya sendiri.

Dalam hatinya, Nara berbisik,

“Aku menulis bukan untuk diterima hari ini.

Aku menulis untuk caraku hidup.”

Di bawah senja yang perlahan menghilang, Nara terus menulis. Bukan untuk mengejar pengakuan, melainkan untuk menyambut dirinya sendiri yang sedang bertumbuh, sedang berproses, dan tidak menyerah.

Karena ia percaya, 

kata-kata yang lahir dari ketulusan

akan selalu menemukan ruang untuk didengar.

Jika bukan hari ini, maka besok.

Jika bukan di sini, maka di tempat lain.

Dan Nara akan tetap berjalan.

Sebagai jiwa sederhana.

Sebagai pemimpi sepenuh waktu.


A Simple Soul, Full Time Dreamer.


di dalam Prosa
Masuk untuk meninggalkan komentar
Bayangan Jiwa