Skip ke Konten

Cermin

“Aku punya cermin di rumah.”

Alisku menyatu menjadi satu. Tak ada angin, tak ada hujan, Isa berkata demikian. Apakah sebuah keanehan memiliki cermin di suatu rumah? Belum sempat aku memberi jawaban, ia sudah mengusung lengan. 

————

Isa membeli cermin saat dirinya berlibur ke Yogyakarta. Tak ada kisah kelam di baliknya, tak ada misteri keluarga, tak pula cerita horor yang menganga. Tentu saja, cerita ini tidak akan mengarah ke sana.

Tampilan yang direfleksikan cermin adalah segala yang memantulkan keutuhan rupa, menjelaskan dirinya yang sempurna. Cermin itu berukiran antik, dengan warna hijau yang menyentrik, membuatnya lebih menarik dan Isa yang menjadi lebih cantik. 

Kata orang, kian kali seseorang menatap cermin, kian banyak yang diperhatikan. Sayangnya, yang tampak bukanlah standar kecantikan. Melainkan bekas jerawat yang enggan pudar, kerutan yang muncul tanpa permisi, pori-pori yang terasa semakin besar setiap hari.

“Ra,” katanya suatu kali, “pernah dengar kalimat embrace your flaws because those are things that makes you become you?”

—————

Manusia memang rentan salah paham, dan disalahpahami.

Apa yang Isa cari bukanlah wajah tanpa cela bak kesempurnaan dewa, melainkan keberanian untuk melihat semuanya. Baginya, semakin banyak yang terlihat di cermin, semakin ia merasa yakin.

Semua itu adalah bentuk keterbukaan.

Keterbukaan bahwa Isa adalah Isa, dengan segala yang dimilikinya. Kekurangan tidak menjadikannya orang lain. Garis-garis kecil di wajah, noda yang tertinggal, bukan tanda kegagalan, melainkan bukti keberadaan.


A Simple Soul, Cermin. 

di dalam Prosa
Masuk untuk meninggalkan komentar
Full Time Dreamer