Pagi datang tanpa suara, merayap pelan ke dalam kamar Nara. Tirai yang semula menutup perlahan terbuka, membiarkan cahaya masuk menembus ruang . Lembut, namun cukup kuat untuk mengusir sisa gelap malam. Cahaya merebak menyentuh lantai, dinding, dan tubuh Nara yang berdiri di hadapannya.
Bayangan.
Ia tak pernah meminta perhatian.
Tak pernah mengetuk kesadaran.
Namun nyata.
Nara bergerak menjalani rutinitas paginya. Mengikat hijab dengan rapi, merapikan meja, menggenggam secangkir kopi hangat. Setiap gerakan kecil itu disalin dengan setia oleh siluet gelap di lantai kamarnya. Bayangan yang menirukan, mengikuti, dan tetap tinggal meski tak pernah disapa.
Bayangan itu menjadi saksi paling jujur dari keberadaannya.
Nara melangkah keluar rumah. Udara pagi menyentuh kulitnya, membangunkan indera yang sempat lelah. Langkahnya mantap, meski pikirannya sering kali berjalan lebih jauh dari kakinya. Di belakangnya, bayangan memanjang, kadang utuh, kadang terpotong oleh dinding dan cahaya lain. Namun selalu kembali, seolah tak pernah rela tertinggali.
Bayangan itu tak bertanya ke mana Nara pergi.
Tak meminta alasan mengapa ia terus menyusuri.
Ia hanya hadir tanpa tapi.
Siang berlalu dengan kesibukan. Bekerja, menyapa, memotret momen kecil yang ia anggap berharga. Dunia berjalan cepat, dan ia mengikutinya dengan semangat. Bayangan tetap setia, meski kadang terinjak, meski kadang terlihat samar oleh terik.
Hingga sore datang.
Matahari perlahan menurunkan diri di balik gedung dan pepohonan. Langit berubah warna, dari jingga ke ungu, lalu perlahan kehilangan hitam. Bersamaan dengan itu, bayangan Nara ikut melemah. Siluet yang biasanya jelas kini menipis, hampir terkikis.
Nara berhenti sejenak.
Ia menatap lantai trotoar di depannya. Ada perasaan asing yang menyelinap sunyi yang tak berbunyi, kehilangan yang tak berwujud. Bukan karena ia sendirian, melainkan karena sesuatu yang selalu setia menemaninya kini tak lagi terlihat.
Seperti semangat yang surut tanpa peringatan.
Seperti harapan yang redup tanpa pemadaman.
Nara pulang, membuka pintu kamarnya yang gelap. Tirai kembali tertutup, dan sejenak ruangan terasa hening. Ia menyalakan lampu kecil di sudut ruangan.
Cahaya menyala.
Sekejap saja, bayangan itu kembali muncul. Bukan bayangan kecil seperti pagi, bukan bayangan pendek seperti siang, bukan banyangan samar seperti sore melainkan siluet besar yang tegak di dinding kamar. Lebih kuat. Lebih jelas. Seakan ingin menegaskan kehadirannya.
Nara menatapnya lama.
Dalam diam, ia mengerti sesuatu yang selama ini luput disadari. Bayangan tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu cahaya yang tepat untuk terlihat kembali. Seperti harapan. Seperti keyakinan. Seperti jiwa yang bertahan meski tak selalu disadari.
Gelap bukan akhir.
Gelap hanyalah ruang.
Ruang tempat cahaya menemukan cara baru untuk hidup.
Nara tersenyum kecil. Bayangan di dinding ikut bergerak, seolah membalas senyumnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa bayangan itu bukan sekadar siluet gelap.
Ia adalah bagian dari dirinya.
Jiwa yang tak tampak.
Yang tetap tinggal ketika dunia meredup.
Yang terus bertahan, bahkan saat ia hampir melepaskan.
Dan selama masih ada cahaya, sekecil apa pun,
bayangan itu selalu ada.
A Simple Soul, Bayangan Jiwa.